Personal Issue 2.0

Ceritanya gini…

Tetanggamu, rumahnya kebakaran, rumah sampingnya kerampokan, rumah di depannya anak yang kecil sakit parah harus segera dirawat. Reaksi warga lainnya yang mau membantu ada dua macam, yang pertam langsung bagi tim untuk membantu masing-masing rumah yang sedang kesusahan, memadamkan api, bantu lapor polisi, mungkin patungan kasih makan minum sembako, bantu sewa mobil atau panggil ambulans buat antar ke rumah sakit, dll. Sedang yang lain, kumpulkan warga, mereka rame-rame ke pak RT untuk menanyakan piye ini warganya kesusahan gini pak RT-nya kemana ini, dll, dengan harapan Pak RT segera turun tangan membantu atau malah dia merasa malu lantas mengundurkan diri karena dibully warganya. Kamu nggak bisa melakukan keduanya dalam waktu bersamaan, pilihannya ya kamu segera membantu yang terlihat kesusahan atau bekerja untuk (semoga) masa depan yang lebih baik? Dua-duanya tujuannya baik, tapi kamu harus memrioritaskan yang terpenting.

Atau gini, contoh lainnya yang lebih sederhana. Kamu mau berangkat ibadah, kamu terburu-buru karena hampir terlambat, di tengah jalan kamu bertemu bapak tukang becak yang ternyata baru saja terjatuh dari becaknya, kepalanya berdarah karena terantuk batu dan butuh perawatan rumah sakit segera, sedang tak ada orang lain di situ kamu lupa bawa handphone dan rumah sakit arahnya berlawanan dengan tempat ibadahmu. Mana yang kamu lakukan lebih dulu? Ibadah dulu baru menolong bapak tadi, ya siapa tahu masih hidup atau segera membawanya ke rumah sakit?

 

c4xuvq2uoaass3u

 

Jadi gini, umpama, kamu ndak bisa ikut turun ke lokasi, minimal kamu bisa membagikan berita yang menjadi prioritas untuk diperhatikan. Paling tidak kamu tidak menutup mata, bahwa ada yang lebih penting untuk kamu bagikan ketimbang ikut meramaikan hal yang sebenarnya kamu tidak terlalu paham jelas apa masalahnya.

 

Gusti Allah ndak ndeso kok.

 

untuk dibaca dan dilihat :

http://indoprogress.com/2017/02/dek-nadya-maaf-akhir-pekan-ini-kita-batal-kencan-ya/

source image : geotimes

Rekomendasi Buku-Buku Kreatif

Kreatif bukanlah bakat, kreatif bisa dilatih dengan latihan dan latihan. Itu yang kerap dikatakan para pakar kreatif, Yoris Sebastian, Wahyu Aditya, Tim Wesfox atau Austin Kleon. Apa benar seperti itu? Lantas kalau kita sudah tahu bahwa kreatif bisa dilatih apa saja yang sudah kita lakukan untuk melatih kreativitas kita? Sejauh apa kita berlatih? Apa sudah benar metode yang kita gunakan untuk berlatih? Bagaimana sebenarnya pemikiran-pemikiran orang yang kreatif?

Di sini ada beberapa rekomendasi buku yang patut kamu baca untuk pengetahuan dan latihan kreatifitasmu sendiri. Baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa mungkin masih bisa didapat di toko buku terdekat, beberapa mungkin hanya bisa didapat di toko buku-buku bekas. Apa saja bukunya? Check this out!

Baca lebih lanjut

Personal Issues 1.1

Masih Tentang #SaveLaguAnak

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Saya benar-benar menunggu beberapa hari untuk menyurutkan “mabok” #SaveLaguAnak. Susah. Saya selalu excited biarpun sudah hampir 15 kali memutar ulang masing-masing lagu di kanal youtube Save Lagu Anak maupun video dokumenternya di kanal Diary Jojo. Oiya sebelumnya saya ingin bilang bahwa saya bukan orang yang terlalu post 90’s power syndrome, saya menikmati era itu, saya bahagia lahir dan besar di era itu, tapi era tersebut harus diakui telah benar-benar berlalu dan tidak mungkin diulang lagi ataupun membawa lagi semua kenangannya ke hadapan era yang sekarang. The show must go on.

Baca lebih lanjut

Personal Issues 1.0

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ada berbagai macam pemikiran menarik mulai dari konsep eksistensi Sartre, habitus Bordieau, pola budaya masyarakat, kapitalisme, kemajuan industry dan teknologi, dan lain-lain untuk membahas apa yang sedang terjadi pada masyarakat sekitar kita saat ini, tapi yang menjadi bahasan hanya akan menjadi sebuah teori tanpa perwujudan perubahan yang memang diperlukan. Emang, apa sih yang sebenarnya terjadi? Ada satu video beberapa waktu lalu yang sempat viral, seorang anak kecil menyanyikan lagu yang isinya menghujat ayahnya yang pergi meninggalkan ibunya. Dek…. Baca lebih lanjut

Kita dan Kesepian Masing-Masing

Up in the Air (2009)

 Up-In-The-Air-Movie-Directed by Jason Reitman ; Produced by Daniel Dubiecki, Jeffrey Clifford, Ivan Reitman, Jason Reitman ;Screenplay by Sheldon Turner, Jason Reitman ; Based on Up in the Air by Walter Kirn ; Starring George Clooney, Vera Farmiga, Anna Kendrick ; Music by Rolfe Kent, Randall Poster, Rick Clark ; Cinematography Eric Steelberg ;Editing by Dana E. Glauberman ; Studio DW Studios, The Montecito Picture Company, Rickshaw Productions ;Distributed by Paramount Pictures ; Release date(s) September 5, 2009 (2009-09-05) (Telluride) & December 4, 2009 (2009-12-04) (United States) ; Running time 109 minutes ; Country United States ; Language English

Genre: Drama, Comedy

Rated : R

RottenTomatoes: 90% (8.1/10) ; Top Critic : 92%
Metacritic : 83/100

Ryan Bingham (George Clooney) adalah karyawan di suatu agensi penyedia jasa pemecatan karyawan untuk perusahaan-perusahaan lain yang tidak tega atau bisa dibilang terlalu lemah untuk memecat karyawannya karena banyak faktor, bisa karena karyawan tersebut sebenarnya baik-baik saja tapi perusahaan harus tetap menjalankan pengurangan pegawai, atau karena karyawan tersebut loyalitasnya sangat tinggi tapi sudah melewati usia produktif, dan banyak hal lainnya. Di saat-saat seperti ini agensi tempat Ryan bekerja dibutuhkan, Ryan harus berkeliling Amerika via pesawat, harus menghabiskan 322 hari dalam setahun hidupnya di perjalanan. Ryan hamper-hampir tidak membutuhkan rumah untuk menetap sama sekali. Ryan Bingham juga punya impian atau cita-cita tersembunyi jadi dia bisa enjoy dalam menikmati perjalannya, yaitu menjadi orang ketujuh di dunia yang bepergian sejauh 10 juta mil menggunakan maskapai American Airlines.

Baca lebih lanjut

BIANGLALA

wp_20140729_16_41_17_smart20140730063529

source image : google

‘Kamu dimana? Aku udah mau nyampe’.

Pesan BBM itu masuk ketika youtube tengah menampilkan bagian Eros sedang memainkan melodinya. Sejurus kemudian muncul seorang wanita tampak anggun dalam balutan gaun pengantin yang menggiring adegan ke prosesi lempar bunga. Nada yg dimainkan Eros makin meninggi ketika dalam video sang wanita ragu-ragu menoleh ke belakang dan ternyata yg berhasil menangkap bunganya ad…

‘PING!!!’

Ponselku bergetar untuk kedua kali.

‘Aku udah di bawah, udah beli tiket terusan. Kamu dimana?’

‘yaudah langsung masuk aja, bawa voucher diskon, kan? Nanti aku nyusul. Balasku.

Segera kualihkan jendela windows dan kembali berkutat dengan daftar harga. “sedikit lagi,” pikirku. Tak lama setelah printer sebelah monitor bekerja segera kubereskan meja kerja dan bergegas ke area wahana.

Kita naik bianglala dulu, setelah itu cobain yg lain. Ada kedai kopi asik di belakang.

Aku terus mengulang kalimat itu dalam kepala sebagai pembuka obrolan. Ya, aku sebodoh itu dalam membuka obrolan terutama dengan wanita satu ini.

Aku mengenalnya beberapa tahun silam ketika masih kuliah di universitas yg sama dengannya. Hanya saja aku lebih memilih DO dan memulai bisnis freelance yang sialnya kegagalan dari bisnis itu membuatku harus mencari kerjaan tetap sampai keluar kota.

Saat itu kami, aku dan gadis itu tentu saja, sedang pacaran, aku sedang cinta-cintanya, ia sedang sayang-sayangnya dan yang kuingat saat kami jadian waktu itu langit Surabaya sedang cantik-cantiknya setelah diguyur hujan.

Selang beberapa bulan kemudian masalah mulai berdatangan, aku yg terlalu asik dengan duniaku dan ia yg terlalu asik dengan karirnya. Drama dimulai, aku yg tidak mengerti dia, dia yang makin lama makin pintar melebih-lebihkan masalah. Beberapa bulan kemudian kami putus. Aku mencari pekerjaan ke luar kota, ia menetap di sini.

Tak perlu kuceritakan detil masalahnya, selain itu bukan hak kalian, aku juga bukan orang yg suka membongkar kotak masa lalu. Bagiku, yang sudah biarlah sudah. Tapi sialnya beberapa minggu bekerja di sini ditambah hujan pertama di kota ini membuatku teringat beberapa hal, bibirnya yg basah ketika kehujanan, tubuhnya yg polos ketika berganti baju di kosanku, dan pandangan sayu wajahnya ketika tertidur usai kami bergumul semalaman. Ah hujan dimana-mana memang berengsek, bukan?

Sekarang inilah yg kurencanakan. Setelah naik beberapa wahana, aku akan  mengajaknya naik bianglala dan mengajaknya membicarakan hubungan kita lagi. Dan semesta sedang berbaik hati hanya menyisakan rintik hujan setelah hujan dari sore.

Apalagi yang kurang? Naik bianglala dengan ditemani rintik hujan dan kopi sembari menikmati Surabaya dari ketinggian. Rencana yg sempurna.

Langkahku bersemangat melewati rombongan orang yg sedang mengantri di foodcourt dan jalan masuk nightmarket. Melewati rombongan orang dan memutuskan untuk membeli dua gelas kopi dulu sebelum mendatanginya.

Tepat sedang memesan kopi ada suara memanggilku, “Ruslan!” Aku mengenalnya. Ketika kubalikkan badan, “Myra” ujarku pelan.

Dua tahun setelah kami berpisah, tak ada yg berubah darinya. Masih cantik. Bibirnya, pundak, pinggul, dan…

“ayo ke kafe sebelah sana..” Ujarnya sambil menggamit lenganku.

“Iya sebentar aku sudah pesan kop…” Kalimatku terhenti ketika ia benar-benar menyeretku. Masih sama, tidak sabaran, seperti dulu.

“Kopi hitam dg sedikit gula kan?” Katanya sambil terus menyeretku, “Sudah kupesankan, mana mungkin aku lupa.” Ujarnya sambil terus berjalan menuju kafe ujung nightmarket. Oke dia masih ingat soal kopi, dan ini adalah pertanda bagus, pikirku. Kini aku berjalan di sampingnya dan hampir sampai di sebuah kedai kopi bernuansa oldies yg sedang memutar suara serak steve vaughn.

“Nah, di sini suasananya asik untuk ngobrol.” Katanya.

“Ya, suasananya pas dengan gerimisnya,” timpalku.

“Akan kukenalkan dengan pemilik kafenya.” Katanya. Kami masuk ke dalam dan ia tersenyum pada seorang pria yg kukenal sebagai atasanku, “Itu, Andre, Suamiku.” Lanjutnya.

Samar-samar kudengar lagu Vaughn berganti John Mayer, “when you dreamin with the broken heart~”. Sudah kukatakan, dimana-mana hujan memang berengsek.

Jangan Lupa Bahagia, Kamu~

gambar diambil dari : imdb

gambar diambil dari : imdb

  • Directed by : Peter Chelsom
  • Produced by : Klaus Dohle, Trish Dolman, Christine Haebler, Phil Hunt, Compton Ross, Judy Tossell
  • Screenplay by : Peter Chelsom, Tinker Lindsay, Maria von Heland
  • Based on : Hector and the Search for Happiness by François Lelord
  • Starring : Simon Pegg, Toni Collette, Rosamund Pike, Stellan Skarsgård, Jean Reno, Christopher Plummer
  • Music by : Dan Mangan, Jesse Zubot
  • Cinematography : Kolja Brandt
  • Edited by : Claus Wehlisch
  • Production company : Egoli Tossell Film, Film Afrika Worldwide, Erfttal Film, German Federal Film, Board (de), Screen Siren Pictures
  • Distributed by : Koch Media
  • Release dates : 15 August 2014
  • Running time : 120 minutes

Baca lebih lanjut